Mengenang Humor-humor Gus Dur

Humor-Humor Gus Dur
http://ananewbie.files.wordpress.com/2009/09/gusdur1.jpg
       Sebagai tokoh pluralis, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang humoris. Banyak celutukan, guyonan, dan tanggapannya atas peristiwa dan masalah pelik membuat masyarakat yang keningnya berkerut, dengan refleks menarik ujung bibir dan membentuk seulas senyuman.

      Bahkan Suatu saat, ketika ditanya tentang "hobinya" ini, bagi Gus Dur, humor sudah menjadi makanan sehari-harinya.

      "Gus, kok suka humor terus sih?" tanya seseorang, yang kagum karena humor Gus Dur selalu berganti-ganti. "Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari," jelasnya. "Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat," sambungnya.

      Banyak humor-humor yang dilontarkan Gus Dur dalam berbagai kesempatan, yang bisa kita simak berikut.

Humor NU
          Seperti saat menggambarkan fanatisme orang NU, bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.
"Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," jelasnya tentang jenis yang pertama.
         Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU.”
         “Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.

Humor Polisi
          Humor lain yang diingat banyak orang adalah kritikan dalam bentuk lelucon yang dolintarkan saat banyak pihak mempertanyakan moralitas polisi, yang masih bisa berlaku dengan saat sekarang walaupun humor ini dilontarkannya setyahun silam.
          "Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur," selorohnya.

Humor Umat Beragama
           Guyonan lainnya dilontarkan Gus Dur saat menghadiri "Seminar wawasan kebangsaan Indonesia" di Batam. Di hadapan 100 pendeta dari seluruh propinsi Kepri, Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.
         "Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan," kata Gus Dur disambut tawa peserta.

Humor DPR
          Dia juga sempat melontarkan guyonan tentang prilaku anggota DPR RI. Sempat menyebut mereka sebagai anak TK, Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah "turun pangkat" setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.
        "DPR dulu TK sekarang playgroup," kata Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jakarta, Selatan, Kamis (17/03), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang Rabu (16/03).

Humor Jihad
          Bahkan saat menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan "menjamin" tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.
          "Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?" tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.
          Gus Dur pun menjawab, "Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadaru, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi."

Humor Ziarah
         Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologi"nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.
          Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.
         "Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi," katanya.

Gitu Aja Kok Repot
         Selain humornya, Gus Dur juga dikenal dengan jawabannya yang menyederhanakan pemikiran masyarakat yang terkadang berbelit-belit. Dia kerap kali menjawab, "Gitu aja kok repot."
         Seperti saat dia memberikan tanggapan perihal pernyataan Probosutedjo perihal kebenaran kondisi Soehrato yang sakit. Saat itu (2 Maret 2000), Gus Dur mengaku tidak diijinkan bertemu dengan Soherto.
          Gus Dur mengakui, dari pihaknya tidak ada masalah sama sekali untuk mengunjungi Soeharto, dan pintunya selalu terbuka. "Perkara saya pergi dengan siapa tidak masalah. Dengan Marzuki Darusman atau kalau perlu seluruh kabinet saya bawa. Begitu saja kok repot-repot," katanya.
          Jawaban yang sama juga dilontarkan cucu pendiri NU itu saat menanggapi tuntutan Fron Pembela Islam (FPI).
        "Jangan takut dan khawatir, tenang-tenang saja. Gitu aja kok repot."

        Ucapan ini menjadi trademark tersendiri, sehingga ucapan ini pula yang ditiru oleh Gus Pur dalam acara Republik Mimpi. Saat ditanya Andy F Noya dalam acara Kick Andy, perihal peran yang dilakoni Handoyo, Gus Dur pun kembali menanggapi dengan enteng.

         "Abis gimana lagi, yah anggep saja sudah. Itung-itung advertensi (iklan) gratis," katanya disambut gelak tawa penonton.

Indahnya Irama dan Susunan Kalimat Al-Quran


Indahnya ayat² Al-Quran..
         
              Al Quran adalah kitab suci bagi umat Islam, yang disampaikan Allah SWT kepada Rasulullah dengan perantaraan malaikat Jibril. Kitab ini merupakan petunjuk dan aturan hidup yang paling sempurna, yang diturunkan untuk membimbing manusia ke arah kebahagiaan dan kebaikan. Ayat-ayat dalam Kitab Al Quran menggunakan bahasa Arab dan susunan kalimat-kalimatnya mengandung nilai sastra yang sangat sempurna. Bahasa yang digunakan dalam Al Quran sedemikian menakjubkan sehingga kita tidak akan bisa menemukan ada kitab lain yang bisa menyamai keindahannya, apalagi melebihinya. Taha Husain, seorang sastrawan Mesir menyatakan, “Al Quran jauh lebih indah dari prosa dan syair, karena keistimewaan yang dimilikinya tidak bisa ditemukan dalam prosa atau syair manapun” Oleh karena itu, Al Quran tidak bisa disebut sebagai prosa, tidak pula bisa disebut syair. Al Quran adalah Al Quran, dan tidak bisa disamakan dengan apapun.” 
 
             Al Quran berbeda dengan syair Arab, meskipun syair Arab dikenal sangat indah dan yang memiliki masa lalu yang cemerlang. Allah sangat mengecam keras orang-orang yang menyebut Al Quran sebagai syair dan menyebut nabi Muhammad sebagai penyair. Dalam surat Yasin ayat 69, Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya.” Namun demikian, Al Quran mengandung kalimat-kalimat yang sangat halus dan berbagai gaya bahasa sastra, seperti majaz, metafora, perumpamaan, atau penyerupaan. Dalam Al Quran juga terdapat ayat-ayat yang berpola atau berirama, yang jumlahnya lebih dari 100 ayat.
       
          Namun demikian, Al Quran memiliki perbedaan besar dengan syair. Selain itu, poin yang menarik untuk dicermati adalah bahwa Al Quran juga memiliki perbedaan dengan kalimat, khutbah, dan hadits dari para nabi, sehingga Al Quran merupakan sebuah karya yang tidak ada duanya. Aspek musikalitas yang dikandung oleh ayat-ayat Al Quran telah menarik perhatian para peneliti sastra sejak zaman dahulu. Faktor keindahan Al Quran saat dibaca sangat menakjubkan para pendengarnya. Di pihak lain, Al Quran yang memiliki sejumlah kisah dan cerita, juga tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah buku cerita. Al Quran juga mengandung catatan-catatan sejarah, namun tidak pula bisa disebut sebagai buku sejarah. Aspek terpenting dari keindahan Al Quran dalam sudut pandang sastra adalah gaya bahasanya. 
 
          Gaya bahasa Al Quran ini dapat kita lihat pengaruhnya terhadap kitab Masnawi Maknawi karya Jalaluddin Rumi dan kitab syair karya Syamsuddin Hafidh yang merupakan masterpiece atau karya agung dalam sastra Persia. Salah satu sisi penting dari keindahan Al Quran yang sangat menarik perhatian para cendikiawan ialah susunan kata-katanya yang berirama. Susunan kata-kata Al Quran sedemikian indah dan cemerlang, sehingga sastrawan Arab sejak zaman ketika Al Quran diwahyukan sampai hari ini, mengakui bahwa bahasa yang dipakai Al Quran berada di luar dari kemampuan manusia dan hanya Allah SWT yang mampu menyusun kalimat-kalimat sedemikian indah. Kata-kata di sebagian besar ayat Al Quran memiliki kesamaan nada pada bagian akhirnya. 
         
           Pola ini dalam puisi atau syair disebut sebagai wazan atau rima. Ayat-ayat Al Quran menggunakan jalinan rima yang menarik hati dan menyentuh jiwa. Karbulad, seorang cendikiawan Inggeris ketika menceritakan pengalamannya saat pertama kali mendengarkan bacaan Al Quran, mengatakan, “Saya masih terjaga ketika di suatu pagi dini hari, saya mendengar suara yang sangat indah dan menawan hati. Suara itu adalah suara ayat-ayat Al Quran yang indah dan penuh hakikat. Bersama suara itu, saya tenggelam dalam alam hakikat. Saya memejamkan mata dan menghanyutkan diri dalam suara Ilahiah dan memasrahkan diri kepadanya.” Dalam Al Quran surah Al Israa’ ayat 107 dan 108 Allah SWT berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’” 
 
           Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang memahami kandungan Al Quran serta sisi-sisi keindahannya, pasti akan bersujud dan memuji keagungan Allah SWT. Ketika ayat-ayat ilahi dibacakan dengan suara yang indah dan irama yang menarik, suara Quran akan mampu meredakan api kemarahan di dalam dada dan menggantinya dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sisi lain daya tarik Al Quran ialah keselarasan antara lafaz dan makna kalimat. Bila kita merenungi ayat-ayat Al Quran, kita akan mendapati bahwa ketika sebuah ayat menceritakan tentang kelembutan dan rahmat ilahi, kalimat dan kata-kata yang digunakan pun bernada lembut dan indah. Oleh karenanya, ketika manusia membaca ayat-ayat tersebut, ia pun akan merasakan sifat lembut dan rahmat Ilahi di dalam jiwanya. 
        
             Sebaliknya, ayat-ayat yang menyebutkan tentang azab, kesempitan, dan kesulitan, juga akan menimbulkan perasaan takut. Lafaz atau kata-kata yang dipakai pun terasa sulit. Sebagai contoh, marilah kita perhatikan Al Quran surah Al An’am ayat 125. Di dalamnya Allah berfirman yang artinya: “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam, dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” Ketika disebutkan tentang lapang dada, si pembaca akan merasa mudah, senang, dan tentram saat membaca kata-kata yang digunakan pada ayat ini. Sebaliknya, pada bagian dari ayat yang berbicara tentang kesesatan atau siksa, huruf-hurufnya terasa sulit dibaca dan banyak huruf tasydid yang saling berdekatan satu sama lain. Hal serupa juga bisa kita temui dalam ayat-ayat yang memberi berita surga kepada manusia yang suci dan pembela kebenaran. 
 
           Kalimat-kalimat yang digunakan dalam ayat-ayat itu adalah kalimat yang lembut dan membuat pendengarnya akan tenggelam dalam suasana ketenangan yang khas. Keselarasan antara lafaz dan makna kalimat Al Quran ini juga menimbulkan ketakjuban cendikiawan Inggris, Karbulad. Ia berkata, “Al Quran memiliki gaya bahasa yang sungguh mempesona dan tidak akan dapat kita peroleh di kitab atau buku manapun. Penulisan yang indah, susunan ayat yang menarik, keselarasan antara lahir dan batin ayat, keindahan ayat, argumentasi yang kuat, kisah-kisah yang menarik, kalimat yang manis, kiasan yang istimewa, metode kata yang mengesankan, serta ribuan keistimewaan lainnya, membuat Al Quran menjadi kitab yang paling fasih dan paling indah.” Al Quran juga mengandung semacam irama tertentu yang khas, yang bisa ditangkap ketika menghayati struktur bahasanya. 
 
        Al Quran memiliki struktur yang unik, yaitu menjalin kata-kata yang tepat sehingga memunculkan semacam nada musik tertentu. Orang-orang yang mampu memahami rahasia irama atau musik dalam Al Quran meyakini bahwa Al Quran bukan musik, namun ketika membaca Al Quran, akan muncul semacam irama yang menakjubkan. Irama maknawi yang disenandungkan oleh Al Quran akan menjadi makanan terbaik bagi jiwa manusia. Berbeda dengan pengaruh musik-musik pada umumnya yang memprovokasi emosi manusia, alunan musik dalam Al Quran akan membangunkan nurani dan kelembutan jiwa, memperkuat akal, dan menenangkan emosi. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap benda memiliki keindahannya tersendiri dan keindahan yang dimiliki Al Quran adalah suara kebenaran yang disenandungkannya.” (berbagai sumber)
lapah-lapah ruk darak
paliyak obai lagak
pengasana ngolap onyak
kebanako nguikuy kurak